8 Hal yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Melamar Kerja di Perusahaan Startup

Perdebatan sering kali berputar di seputar penghasilan atau intensitas kerja yang umumnya lebih kencang di perusahaan startup.

Startup adalah perusahaan rintisan yang masih berada pada tahap pengembangan untuk menemukan pasar.

Produk startup itu sendiri terkadang masih dalam tahap pengembangan. Meski pengembangan tanpa akhir juga terjadi pada berbagai kasus, terlebih untuk startup digital.

Startup biasanya beraktivitas dengan menggunakan dana yang besar dari investor. Sehingga mereka sanggup untuk membayar besar karyawannya. Hal ini tentu menjadi menggiurkan, terlebih bagi mereka yang masih muda.

Perdebatan sering kali berputar di seputar penghasilan atau intensitas kerja yang umumnya lebih kencang di perusahaan startup.

Terlepas dari pro dan kontranya, berikut beberapa hal yang perlu kita pertimbangkan sebelum memutuskan melamar kerja ke perusahaan startup:

{tocify} $title={Daftar Isi}

Siap menghadapi "chaos"

Senior Editor LinkedIn News Asia, Chris C. Anderson pernah menulis bahwa salah satu hal yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri sebelum melamar kerja ke perusahaan startup adalah: siapkah kita menghadapi chaos atau kekacauan yang terstruktur?

Hal ini perlu menjadi pertimbangan terutama untuk orang-orang yang sebelumnya bekerja di perusahaan yang lebih kaku serta sudah sangat terorganisasi dan tersegmentasi.

Jika masuk sebagai pemimpin ke perusahaan startup, maka kita harus siap menghadapi kekacauan tersebut dan punya perencanaan untuk menerapkan struktur dan proses yang terukur.

Sementara jika kita masuk di tingkat junior, kita harus percaya bahwa pemimpin kita punya rencana sendiri dan memberikan kita tujuan bersama dengan kemampuan untuk mengeksplorasi apa yang diprediksi bakal berhasil untuk perusahaan.

Kondisi ini membuat kita tak selalu tahu apa yang perlu kita lakukan. Jadi, kita harus lebih proaktif dan mau terus bereksperimen untuk mendapatkan keberhasilan.

Harus nyaman dengan perubahan

Tak seperti perusahaan yang sudah punya sistem yang kaku dari hari ke hari, seperti yag diungkapkan dalam poin sebelumnya, startup cenderung masih melakukan perubahan yang sangat cepat.

Hal-hal seperti deskripsi pekerjaan, tugas, struktur laporan, hingga perencanaan proyek, bisa lebih sering berubah.

Laman the Muse menuliskan, ritme kerja ini bisa menimbulkan frustrasi, terutama jika kita baru saja menyesuaikan diri dengan tempat kerja baru atau sebelumnya datang dari perusahaan yang ritme kerjanya berkebalikan.

Namun, jika mau sukses, kita harus siap dengan itu. Ingatlah bahwa perusahaan-perusahaan startup memiliki para profesional yang termotivasi dan mereka tidak takut dengan guncangan apa pun di perusahaan.

Menunjukkan bahwa diri kita bisa dengan mudah mengikuti ritme kerja perusahaan startup bisa membawa kita ke jalan kesuksesan.

Siap bekerja untuk tim

Di perusahaan startup, kita harus siap bekerja untuk tim melebihi jika bekerja di perusahaan yang sudah terstruktur.

Kita juga harus siap untuk terjun langsung dan siap melakukan pekerjaan yang di atas kertas sebetulnya bukan pekerjaan kita.

Ini dapat berubah-ubah tergantung proyek yang sedang dijalankan perusahaan.

Bisa saja satu hari kita membantu menjawab telepon masuk, di hari lainnya mempresentasikan proposal di depan dewan direksi, dan di hari berikutnya punya tugas lain lagi.

Semuanya bisa berubah dalam hitungan jam dan kita tidak bisa menjawabnya dengan "ini bukan deskripsi pekerjaan saya".

Banyak karyawan baru di perusahaan startup membuat kesalahan pemula, yakni fokus dengan bagaimana perusahaan bakal membantu mereka alih-alih bagaimana bisa berkontribusi terhadap perusahaan.

Startup cenderung lebih banyak dipenuhi karyawan yang bersemangat dan orang-orang yang tidak mau bekerja fleksibel atau mengutamakan pekerjaan, mungkin tidak cocok dengan pekerjaan ini.

Veteran adalah mentor, bukan musuh

Kebanyakan startup dirintis oleh beberapa individu cerdas yang memiliki ide cemerlang.

Mereka menemukan beberapa investor dan mengelilingi diri mereka dengan orang-orang cerdas dan termotivasi (sering kali muda) sehingga bisa merealisasikan ide-ide mereka menjadi kenyataan.

Kemudian, ketika perusahaan sudah mulai melangkah lebih jauh di jalan kesuksesan, mereka mungkin akan membawa beberapa ahli, yakni profesional berpengalaman dan yang akan membantu mereka naik ke tahap berikutnya.

Ketika para veteran hadir, mungkin karyawan di dalam akan mulai merasakan kegugupan atau kesal. Misalnya, karena mengatakan kita harus melakukan ini dan itu karena mereka punya gelar yang banyak atau kesuksesan di bidangnya.

Tapi, tak perlu khawatir, sebab para ahli tersebut bukanlah pesaing kita melainkan calon mentor kita.

Di perusahaan besar yang sudah punya struktur rigid, mereka mungkin tidak mendapatkan akses sama sekali sehingga di perusahaan startup mereka bisa lebih vokal.

Tapi sebagai permulaan, kita bisa berinteraksi dan belajar dari mereka setiap hari. Itu tentu menjadi nilai plus, bukan?

Seberapa kenal kita dengan CEO perusahaan?

Pada tahap awal, memiliki keyakinan dan mempercayai pendiri atau CEO perusahaan startup sama pentingnya dengan percaya pada produk yang didorong perusahaan tersebut.

Maksudnya, pahami bahwa mereka akan melalui sejumlah situasi naik-turun dalam beberapa waktu ke depan.

Dalam hal ini kita harus mengenal betul sosok pendiri atau CEO apakah mereka sudah menjadi agen perubahan dan punya pemikiran maju ke depan di peran sebelumnya.

Lalu, apakah mereka punya dukungan di luar lingkar pertemanannya tetapi juga dari bawahan langsung sebelumnya?

Apakah mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk berbicara di cara konferensi dan meningkatkan profil mereka sendiri daripada pengalaman organisasi dan kepemimpinan yang sebenarnya?

Seorang CEO dari perusahaan startup harus memiliki pengalaman dalam membangun tim dan mengelola tim tersebut.

Jika tidak, mereka harus cukup pintar untuk mempekerjakan orang-orang tersebut atau punya rekan pendiri (co-founder) yang punya kemampuan itu.

Kita perlu membuat keputusan dan untuk membantu mereka, kita harus berani menanyakan dengan sopan tentang "kesuksesan masa lalu" mereka.

Sebab, beberapa CEO hanya diberi uang untuk memulai sesuatu tanpa memiliki petunjuk yang jelas tentang bagaimana menjalankannya dengan baik dan mereka tidak pernah melakukannya sebelumnya.

Jika tidak bertanya secara langsung, kita juga bisa melakukan riset tidak hanya tentang perusahaan, tetapi juga tentang CEO dan segala seluk beluk perusahaan.

Apakah kita yakin dengan mereka? Terutama di masa pandemi ini bakal terjadi fluktuasi ekonomi dan stabilitas yang tidak terprediksi.

Pahamilah bahwa tidak semua CEO punya kualitas dan kapasitas yang sama dan beberapa CEO punya kemampuan yang lebih daripada lainnya.

Pastikan investornya tepat

Sebelum memutuskan melamar kerja ke sebuah perusahaan startup, pastikan pula perusahaan tersebut punya investor yang tepat dan tidak mendapatkan uang secara "acak".

Mengetahui siapa investor dan rekam jejaknya sangatlah penting untuk memperkirakan seberapa panjang umur perusahaan tersebut dan seberapa kuat dukungan yang dimilikinya.

Perusahaan itu bisa saja punya produk yang sukses, tetapi jika CEO dan produknya tidak sesuai dengan ekspektasi investor, maka startup tersebut berpotensi menghadapi masalah di masa depan karena ekspektasinya tidak selaras.

Jadi, jika sudah sampai di tahap wawancara kerja dan mereka ragu ketika ditanyakan tentang siapa investornya, maka itu tandanya kita perlu berhati-hati.

Mempertimbangkan risiko

Perusahaan startup bisa saja tutup dengan sangat cepat.

Ini adalah salah satu risiko ketika bekerja untuk perusahaan ini.

Selain itu, meskipun kita mungkin berpikir bisa jadi orang pertama yang tahu tentang potensi gulung tikar tersebut karena anggota timnya hanya tim kecil, ini ternyata tak selalu benar.

Kita punya tanggung jawab dalam memantau risiko tersebut.

Penting untuk mempelajari sebanyak mungkin tentang kinerja dan lintasan perusahaan, mampu membaca pemberitaan tentang bisnis dan investornya, serta perlu secara aktif menanyakan kepada pimpinan bagaimana mereka mengukur kesuksesan.

Sehingga, ketika suatu saat segala kondisi memburuk, kita tidak terbutakan.

Pada akhirnya, kita harus ingat bahwa bekerja untuk perusahaan startup mengharuskan kita untuk menyesuaikan konsepsi kita tentang hari kerja.

Kita mungkin akan menghabiskan hari-hari yang lebih panjang, tanggung jawab yang berubah-ubah, dan perusahaan bisa saja berkembang pesat atau hancur dalam semalam.

Tapi, jika kita menerima risiko itu dan menganggapnya sebagai peluang belajar yang menjanjikan, maka bekerja untuk perusahaan startup adalah langkah tepat untuk memulai karier.

Pastikan mendapatkan bayaran yang sesuai

Salah satu alasan orang-orang tergiur bekerja di perusahaan startup adalah potensi penghasilan yang lebih besar.

Mereka juga bermimpi perusahaan startup yang dilamarnya kelak bakal jadi startup unicorn dan memberikan lebih banyak uang lagi.

Namun, kenyataannya tak selalu demikian.

Jangan berekspektasi angka tertentu atau mendapatkan bonus yang "membanjiri" rekening tabungan kita.

Tak semua perusahaan startup bisa berhasil dan membayar karyawannya dengan gaji yang besar.

Namun, bukan berarti kita tidak boleh bernegosiasi di awal untuk mendapatkan bayaran yang sesuai. Kita justru harus melakukannya jika ingin punya kesempatan dibayar sesuai dengan nominal yang kita targetkan.

Jangan terima pekerjaan jika mereka tampak tidak siap untuk menerima tawaran kita sejak awal. Misalnya, jika mereka menjanjikan untuk memberikannya setelah tiga bulan.

Mengapa jangan menerimanya?

Sebab, kita tidak pernah tahu apakah tiga bulan tersebut nantinya bakal berubah jadi enam bulan atau tidak sama sekali. Ingat kembali, ini adalah perusahaan startup. Banyak hal yang bisa terjadi.

Prioritas bisa berubah dan kita mungkin bakal berada di posisi yang tidak menyenangkan, kecuali jika kita bisa mendapatkan kesepakatan tertulis tentang sesuatu.

Pastikan mengenal betul sebelum melamar

Seperti yang diungkapkan pada poin-poin sebelumnya, startup mungkin saja punya masalah dengan stabilitas yang membuatnya bisa saja sukses atau runtuh dalam waktu cepat.

Pastikan kita mengenal betul perusahaan sebelum mengajukan lamaran kerja.

Startup adalah tempat yang sangat tepat untuk pengembangan karir dan mendapatkan pengalaman yang mungkin tidak didapatkan ketika bekerja di korporat.

Dalam hal ini, salah satu hikmah yang bisa didapatkan jika hanya bekerja dalam jangka pendek adalah kita masih bisa dapat keuntungan dalam hal pembelajaran.

Pastikan kita "mengotori" tangan kita dalam berbagai cara. Jika dipekerjakan sebagai kepala divisi marketing, misalnya, pastikan bekerja 100 persen dan melakukan lebih dari deskripsi pekerjaan yang tertera di kertas.

Jika masuk di entry level, lakukan apa saja yang bisa dikontribusikan untuk perusahaan dan sesuai kebutuhan.

Sebab, jika berprestasi kita mungkin dapat segera mendapatkan promosi.

Jika sudah mengenal perusahaan sejak awal, kita bisa membekali diri dengan keterampilan yang ingin kita peroleh sejak sebelum bekerja di sana.

Seperti apa pun ritme kerja di dalamnya, kita akan tetap tumbuh jika siap untuk belajar.

Jika perusahaan tersebut pada akhirnya tidak berhasil, kita tetap dapat memperluas keahlian untuk bersaing di dalam pekerjaan global yang kompetitif saat ini.

Rujukan: Kompas